Path to Infinity

some notes from my journey

Aku dan Pemilu Legislatif 2009

with 58 comments

Tulisan ini dibuat atas pertanyaan seorang teman yang mempertanyakan alasan saya golput. Yupz, tepat seminggu yang lalu saat pemilu legislatif saya memilih untuk tidak menggunakan hak pilih saya.

Waktu itu dia sempat marah kepada saya dikarenakan keputusan itu dan dia juga menanyakan alasan saya. Saat itu saya hanya menjawab “aku golput karena kalian bakal milih”, entah itu jawaban yang memuaskan atau tidak, tapi beberapa orang bisa berhenti menanyaiku setelah kukatakan alasan ini, dan karena aku sudah terlanjur berjanji menjelaskan alasanku maka inilah dia.

Sejak awal sebenarnya aku masih bingung apakah akan menggunakan hak pilihku atau tidak, beberapa pertimbangan adalah caleg yang terlalu banyak dan cara kampanye mereka yang, menurutku, agak aneh untuk ukuran seorang calon legislatif, lihat aja beberapa di sini, lalu ongkos pulang ke rumah “hanya” untuk ikut mencontreng, dan seberapa besarkah pengaruh satu hak pilihku dengan melihat caleg yang segitu banyaknya.

Kemudian aku mencoba membandingkan, apakah dengan ikut pemilu aku mendapatkan apa yang kuharapkan, dan aku mulai mendaftar harapan-harapanku, yaitu, aku harus ikut pemilu agar:

  1. Caleg yang terpilih bukanlah caleg yang hanya mengejar keinginan pribadi semata (uang, kekuasaan, kepentingan pribadi/golongan).
  2. Anggota legislatif yang saat ini kurang kompeten bisa diganti dengan muka baru yang lebih menjanjikan.
  3. Aspirasi politikku dapat tersampaikan.

Secara garis beras mungkin tiga alasan di atas bisa cukup mewakili tujuanku. Dan untuk mencapai tujuanku tersebut aku harus: mencari-cari profil caleg untuk daerah pemilihan dimana aku terdaftar, menganalisa, lalu pulang ke kampung halaman saat hari pencontrengan, yang tentu saja akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan itu.

Dan setelah dibandingkan, justru aku malah berpikir nilai yang kukeluarkan untuk mencapai tujuanku tidak akan sebanding dengan hasil yang akan kuperoleh, ini seperti membeli sesuatu yang berharga 500 tapi aku harus mengeluarkan uang 1000, atau menanamkan suatu investasi pada aset yang nilainya akan menurun kelak, dengan kata lain aku memastikan bahwa aku akan merugi jika mengikuti prosedur di atas. Maaf jika kelihatannya sangat “kapitalis”, tapi kalau mau jujur memang begitu keadaannya.

Coba lihat bagaimana kampanye dari caleg-caleg di sekitar kita, mungkin karena mereka berpikir sekarang saingannya tidak hanya dari partai lain tapi juga caleg dari partainya sendiri, maka mereka berlomba-lomba menaikkan popularitas secepat mungkin, bahkan kadang (atau malah seringkali) dengan cara-cara yang “irrasional”. Parpol pun tidak mau kalah, bisa kita lihat di pemilu tahun ini banyak sekali parpol-parpol yang mencalonkan orang yang sudah lebih dulu “terkenal”, apakah itu (hanya) untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya? Saya tidak bilang mereka bukan orang yang baik, justru mungkin kebanyakan mereka adalah orang yang baik, jujur, tanggung jawab, dll, tapi apakah itu semua cukup untuk menjadi anggota dewan yang terhormat? Mungkin itu semua memang syarat perlu seseorang menjadi anggota dewan, tapi itu tidaklah cukup, dibutuhkan kapabilitas, kemampuan. Ataukah konstelasi politik sekarang “mengharuskan” syarat cukup itu tidak perlu, atau lebih buruk lagi asal bisa populer dan mendulang suara yang banyak itu sudah lebih dari cukup, tak heran jika semuanya hanya berlomba-lomba mencari popularitas untuk meraih suara sebanyak-banyaknya.

Dalam keadaan seperti ini tentunya sangat susah membedakan antara orang yang hanya mencoba mendulang suara sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan berbagai cara dan orang yang betul-betul ingin memperbaiki bangsa. Dan sebagai rakyat jelata, yang bisa saya lakukan hanyalah memilih salah satu calon dan berharap semoga siapapun yang terpilih benar-benar ingin memperbaiki bangsa ini. Dan dalam kasus ini saya lebih memilih untuk tidak memilih siapapun dan tetap berharap semoga siapapun yang terpilih benar-benar ingin memperbaiki bangsa ini serta secara pribadi tetap melakukan berbagai cara lain untuk kebaikan bangsa ini sesuai bidang saya.

Tentu saja saya sangat sadar sepenuhnya, jika semua masyarakat Indonesia berpikiran seperti saya, negara ini bisa kacau, karena bisa jadi nantinya orang-orang yang terpilih duduk di parlemen justru orang-orang yang tidak bertanggung jawab tapi bisa memobilisasi massa untuk memilih dia. Dan ketika akhirnya saya tahu beberapa teman-teman saya sangat bersemangat untuk menggunakan hak pilihnya, akhirnya saya lega. :D

Karena saya yakin mereka adalah para pemilih yang cerdas, tidak mudah tertipu dan mereka juga mengkampanyekan orang-orang untuk menjadi pemilih yang cerdas. Sehingga akhirnya saya bisa yakin untuk memutuskan sikap yaitu golput dengan tanpa mempengaruhi orang lain untuk golput, bahkan jika kemaren-kemaren anda meminta saran ke saya, maka pasti saya akan menyarankan anda untuk menjadi pemilih yang cerdas, walau jika ditanya pilihan saya pasti tetap akan saya jawab golput (yah, saya tetep harus jujur lah.. :D ), hanya saya tidak akan memberikan detail secara rinci alasan saya golput, karena takutnya orang lain bisa terpengaruh untuk ikut golput (walau saya sendiri kurang yakin apakah alasan seperti di atas bisa digunakan untuk mempengaruhi orang) atau mungkin alasan diatas dijadikan pembenaran untuk golput.

Karena dengan semakin banyak pemilih cerdas yang golput maka justru nilai ekspektasi dari utilitas saya akan menurun, dan dengan tidak mencegah para pemilih yang cerdas untuk menggunakan suaranya, serta menganjurkan orang untuk menjadi pemilih yang cerdas jika ada yang meminta saran, maka saya bisa mengeluarkan cost minimal dengan ekspektasi yang maksimal untuk nilai utilitas saya, dibanding jika saya harus memutuskan untuk ikut pemilu legislatif. Sekali lagi, mohon maaf jika terdengar sangat “kapitalis”. :D

Saya tidak akan mengatakan tindakan saya ini adalah tindakan yang baik atau buruk, tapi inilah alasan dibalik tindakan saya, dan inilah bagaimana saya melihat pemilu legislatif 2009. Jika banyak orang yang bilang golput bukanlah solusi, tapi kita bisa melihat golput sebagai suatu peringatan, suatu sikap politik dari rakyat yang mengatakan ada yang salah dari pemilu legislatif sekarang.

Walaupun saya golput pada pemilu legislatif kali ini, tapi sampai sekarang saya masih memutuskan akan menggunakan hak pilih saya pada pemilu presiden mendatang.

Dan walaupun saya golput pada pemilu 2009 ini, tapi  jika memang pemilu itu adalah tempat dimana rakyat jelata seperti saya bisa menyampaikan suara, maka inilah sedikit dari suara saya:

  1. Untuk caleg yang terpilih semoga dapat mengemban amanat rakyat dengan baik, dan tidak menyalahgunakan kekuasaanya hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Untuk para caleg pada pemilu-pemilu mendatang gunakanlah cara-cara yang lebih cerdas dalam meraih simpati. Bagaimana kami bisa berharap anda bisa menyelesaikan masalah bangsa jika anda sendiri “bermasalah” atau berkampanye dengan cara-cara yang justru menimbulkan masalah.
  3. Untuk KPU atau siapapun yang berwenang, mohon prosedur pemindahan daerah pemilihan bagi para perantau bisa diperjelas dan tidak diperumit, sehingga para perantau bisa menggunakan hak pilihnya tanpa harus pulang ke daerah asal. Soalnya beberapa teman saya yang sebenarnya sangat ingin menggunakan hak pilihnya terpaksa tidak bisa menggunakan hak pilihnya dikarenakan ketidaktahuan mengenai prosedur pemindahan itu.

Ahh..lagi pula mana ada sih anggota dewan yang terhormat yang mau membaca tulisan ini!! Tapi semoga masih ada diantara mereka yang mau mendengarkan suara rakyatnya…itupun jika mereka masih mau mendengar suara orang-orang yang ingin bangsa ini maju walau mereka tidak memilihnya. Atau mungkin mereka hanya mau mendengar suara segelintir orang yang memilih mereka walau “suara” itu jelas tidak untuk kebaikan bangsa ini?? ahh…entahlah!!

Written by winky

April 16, 2009 at 2:54 am

58 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Aduh… baca tulisan ama komentar kok capean baca komentar? Wakakakak

    Pembahasan tentang Golput ini emang seru, tapi mas musti diinget loh.. antara Golput dengan tidak memilih itu beda, saya pernah bahas ini diblog saya. Jadi sebetulnya mas Golput apa gak memilih kemaren?

    Kalo mas milih Golput brarti mas memilih untuk tidak memilih para calon legislatif, sebagai akibatnya mas gak boleh menuntut banyak dari mereka.

    Dan saya kutip dari tulisan saya tentang Golput ini: “Diantara yang paling buruk, pasti ada yang terbaik, dan bila yang terbaik diantara mereka yang selalu terpilih, maka standar baiknya akan meningkat, waktu demi waktu”

    Semoga ini gak dianggap konflik ya ROFL (soalnya baru baca tulisan mas tentang konflik juga) Ini cuma pendapat saya yg mungkin salah, tapi paling gak bisa jadi pertimbangan buat mas di pemiliha presiden besok.

    Gandi Wibowo

    May 2, 2009 at 1:58 am

    • wah……wah……wah, mas Gandi jangan sampai kita terlambat belajar dari pengalaman, akibatnya akan jatuh kelobang yang sama untuk keseratus kalinya.
      untuk mendapatkan “yang terbaik itu” suruh dulu mereka-mereka (pimpinan partai atau yang senengnya deklarasi partai karena punya dana) yang lancang buat partai jadi banyak mengadakan pemilihan diantara mereka sendiri sehingga akan terjaring hanya dua atau tiga partai saja yang disodorin pada rakyat. akhirnya rakyat benar-benar akan cerdas dalam menentukan pilihannya pada orang-orang yang siap kalah dan siap menang.

      arif

      May 6, 2009 at 3:22 am

      • duh, aku merasa mas arif ini pesimis sekali terhadap negeri ini ya?
        yang aku tangkap, karena keadaan tidak sesuai dengan apa yang Anda harapkan, maka Anda memutuskan untuk tidak memilih sama sekali, alias GOLPUT.

        samsul arifin

        May 7, 2009 at 3:25 am

        • duh mas ifin, aku mau tanya bijaksana mana ya?? bila suatu keadaan tidak sesuai dengan diri kita mendingan mana ya “mendeklarasikan partai baru atau GOLPUT” aku sendiri bukan golput lho

          arif

          May 7, 2009 at 8:00 am

      • Betul mas, seharusnya dalam sebuah sistem kepartaian ada yang namanya regenerasi dan kaderisasi.. Jangan sampe seorang yg baru nyebur lautan politik sudah di jadiin caleg.. Jadi musti ada seleksi internal.

        Tapi kan saya gak mungkin nyuruh mereka untuk ngadain seleksi itu (Saya kan orang luar). Saya inget pesan bapak saya: Kalo mo ngerubah suatu organisasi, lebih efektif kalo ngerubahnya dari dalam, walau efeknya lama tapi hasilnya tahan lama.

        Sayangnya saya blom mau nyebur ke partai politik, jadi ya.. bisanya cuma milih yg terbaik dan berdo’a semoga pemilu besok ada yang lebih baik. Toh sebagai hambaNya cuma itu yg bisa kita lakuin.

        Gandi Wibowo

        May 9, 2009 at 4:52 am

  2. Lho…Lho,,,komentar kalian out of topik,, @Winky :Maap yo wink,,aku g duwe wektu nggo GR,,hwekekek,,mksdku,,waktuku habis untuk tidur dan jalan2,,Nah Lho,,out of Topik lagi deh,,
    @Wijna :Aku dilarang coment ya??krn bkn anak matic??hiks,,hiks,,hiks,,baiklah,,(dengan menyesal) aku putuskan,,akan coment lagi,,huehehehehe

    Ika

    May 1, 2009 at 2:20 am

    • siapa bilang ngga boleh komen? awalnya kn saya cuma suruh Win buat mendengarkan apa yang kamu ucapkan.

      Kenapa langsung menyimpulkan kyk gitu :p

      wijna

      May 1, 2009 at 8:00 am

      • sudah2 kalian jangan bertengkar gitu..jangan suka bikin konflik di blog orang lain..baca artikel ku ni

        http://winkausyar.wordpress.com/2009/04/27/blog-dan-konflik/

        @wijna:
        saya mendengar perkataan semua orang kok wis..tenang aja.. :D

        @ika:
        Enggak ka’..boleh2 kok..siapa aja boleh berkomen di sini asal sopan dan beretika…sudah2 g usah dengerin wisna..tukang bikin konflik dia.. :P

        winky

        May 1, 2009 at 9:29 am

  3. ck,,ck,,seru banget,,hehe,,hm,,hm,,aku juga Golput tu wink,,,n kalo ngomongin alasan,,sebenere bingung juga,,yang pasti si aku emang kecewa dengan “pejabat2″ itu,,,,trus,,bingung lagi,,saat kita memilih pemimpin,,kita juga harus mempertanggungjawabkan “pilihan” kita itu di akhirat,,,hehehe,,gt deh,,

    Ika

    April 29, 2009 at 2:47 am

    • tuh Win…dengarkanlah kata mbak Ika ini…

      wijna

      April 29, 2009 at 3:08 pm

      • weh..la wong de’e golput kok wis..piye toh?? :P

        winky

        April 30, 2009 at 2:58 am

        • klo itu mah saya nggak peduli, yang saya pedulikan HANYA mbak Ika komentar di blogmu ini, itu aja kok

          wijna

          April 30, 2009 at 6:02 am

      • weleh..tuh ka’ ada yg mempedulikanmu ternyata… :P

        jo ge er lo kowe ka’…hahaha

        winky

        April 30, 2009 at 6:07 am

  4. [...] Dia hanya menjawab ringan, “Don’t take it personal Pin. Biasa aja”. Yah, inilah yang aku suka dari sosok Winky, dia seorang yang professional yang mampu menempatkan berbagai macam situasi. Aku harus belajar banyak darinya sepertinya. Bagi Anda yang belum tahu perdebatan panjang antara aku dan Winky, aku sarankan Anda untuk berkunjung di blognya di sini. [...]

  5. Hadyuh-hadyuh..kakak2Q kok jadi begini sie..mana kekompakan kalian???ih jadi ill feel,po tak tendang siji-siji po yo..aku jago karate sak-iki loh..wkakakkaa..begini-begini..karena aku disuruh jadi pendamping eh penengah(so sweet..jadi terharu banget)weleh2..aku akan berusaha untuk adil dalam masalah ini:

    @ mas iphin:comment mas ke mas wingky menurutku “ter-la-lu”,terlalu sadis-sadis masochis,kalau kita mau mengajak orang ke jalan yang benar(‘bukan berarti mas wingky lagi berada pada jalan yang salah loh ya’),itu sebaiknya scr halus,kalu gak mau:diamkan ,dan kalu gak mau lagi maning=baru boleh dihajar..bak..buk…beg.. bag..back kiri..oper…gelandang kanan…tendang and then goal(kuk malah bal2an????)..

    @ mas wingky:ok..saya hormati &hargai keputusan mas wingky untuk golpuT,dengan alasan2 yang dipaparkan diatas(untuk kali ini saja lo ya ..)..tapi menurutku alasan diatas kurang begitu tepat..mas wingkY terlalu percaya pada orang lain,percaya bahwa orang lain bisa memilih dengan tepaT,mempercayakan kehormatan& keexistan bangsa ini pada orang lain.mana Ke-pede-anmu untuk menjadikan bangsa ini lebih baik???(apakah sudah 99.99% mencari caleg yang ideal menurut mas?)dan seperti kata mas wingky sendiri(”la wong aku aja belum nyari (dengan serius) kok sudah bisa dibilang tidak menemukan..bahkan aku percaya lo masih banyak caleg yang pantas dipilih kok”).nah inilah masalah mas wingky yang sebenarnya…masalahnya mas wingky kurang mau “bersua” dengan para politikus kita..nah untuk saranku kedepan jangan golput..kasihan bangsa ini,jika ditinggalkan orang2 berkompeten kayak kamu(“”ssssttt dilem ben gelem milih..wkakakka!!!””””).percayalah harapan itu masih ada,harapan dimana bangsa ini menjadi bangsa terhebat dan terdepan itu masih ada..percayalah …percayalah..karena didunia ini tidak ada suatu hal yang gak mungkin..KUN…yakin bahwa kita bisa melakukannya..ayo anak muda!!!!….bergegaslah..karena harapan itu masih ada……(malah iklan!!!)

    @smuanya=”””berpelukan”””….ning aku ra melu ah..ndak kepenaken kalian..giyahahahahaha..LOL

    cning tetep ayu

    April 23, 2009 at 4:17 am

  6. ha3..kalian semua ngomong apa sih?? Golput atau pun mencontreng adalah pilihan… Jadi, kenapa harus ribut kayak kayak kebanyakan politisi jadi-jadian (gara2 pemilu, jadi banyak orang yang putar haluan ke politik)? Cukup saling mengingatkan dalam hati sendiri – sendiri aja lagi,, kalo indonesia ini masih butuh pemimpin yang BERSIH, ADIL dan PROFESIONAL. Nah, kalo kita tau orang or partainya, kenapa nggak kita dukung perjuangan mereka??
    Mang bener sih, banyak dari mereka yang daftar jadi caleg untuk kepentingan pribadi semata (banyak yang sudah terkuak di berita), tapi ada juga lho yang mencoba untuk membuat indonesia ini lebih baik karena Harapan itu Masih Ada KAWAN…
    Jadi, kalo di tulisan ini gak ada yang bener or salah, semua berdasarkan penilaian kita masing2…

    gunawan

    April 22, 2009 at 9:28 am

    • kayaknya ada maksud kampanye terselubung ni…hwahahaha…*peace gun*

      woke..makasih gun..

      winky

      April 22, 2009 at 10:54 am

  7. Saya boleh menambahi?
    1. Tulisan ini bagus, jujur dan apa adanya. Meskipun sayanggak mengerti misi yang ingin disampaikan selain pengakuan ke-Golput-an. Saya nggak pernah berfikir tulisan ini ingin menuai kekontroversian supaya banyak yang “nengok”. Karena nyatanya dilihat yang kasih comment tidak banyak dari luar, banyak dari lingkungan “pertemanan”.
    2. Golput adalah choice, sobat. Nggak bisa diadili dan nggak bisa disalahkan, apalagi diharamkan, toh hanya masalah dunia.
    3. Pilihan untuk Golput kembali kepada tata nilai yang dianut pribadi, jiwa kenegaraan yang bersangkutan, dan persepsi posisi diri dan negara. Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain, kalau banyak orang ya jadi bangsa. Hitangan golput tidak bisa dari sisi ekonomi belaka, tetapi nasib ke depan suatu bangsa.
    4. Sementara itu, makasih.

    mardoto

    April 22, 2009 at 7:37 am

    • terima kasih atas komennya pak..

      1. ya memang tulisan ini dibuat atas ‘request’ teman aja kok..penjelasan ke mereka..kenapa saya golput…saya tidak pernah ingin membuat suatu ‘kontroversi’, walaupun sebenarnya saya tahu posting tulisan kayak gini sama dengan ‘bunuh diri’, sebab notabene yg baca blog ini juga cuman teman2 saya dan mereka berada di pihak yg ‘melawan’ saya… :D
      yah mungkin memang beginilah cara kami berkomunikasi..

      2. Woke pak Mardoto…

      3. Ya, dan saya juga telah menghitung dari kedua sisi itu pak, dan hasil hitungan saya ya seperti ini..inilah posisi optimal yg bisa saya ambil untuk saat ini (menurut saya)…

      4. Sama2 pak.. :D

      NB: Untuk semuanya, maaf jika maksud dan arti dari tulisan saya ini kurang begitu jelas, samar atau tata bahsanya amburadul..maklum baru belajar nulis..postingan aja belum nyampe sepuluh.. :D

      winky

      April 22, 2009 at 10:52 am

  8. pada bahas apaan sie??gak ngeh??aku belum punya sim untuk mencontreng..masih kecil!!!hahahaha…sit tak baca dengan sungguh2,,,tunggu comment ku yang PALING DASYAT!!!nek ora lali loh…tenang mas iphin aku nanti sebagai penyamping..eh penengah!!!wkakakakaka

    cning

    April 22, 2009 at 6:57 am

  9. Btw, tulisan ini udah jadi TOP TEN di Indonesia belum ya?
    hehehe :d

    samsul arifin

    April 21, 2009 at 10:35 pm

    • boro2 top ten..la wong blogku ini page rank nya N/A kok… :P

      winky

      April 22, 2009 at 10:39 am

  10. ngomongin politik gak ada habisnya…

    warzs

    April 21, 2009 at 6:30 pm

    • yah…capek..ngomong politik sekali aja blog ku malah jadi rame gini…hehe

      eh, link ke blog nya enggak kutampilin ya..kena sensor.. :D

      winky

      April 22, 2009 at 10:38 am

  11. “…wong aku aja belum nyari (dengan serius).”, kalau begitu dengan berat hati bolehkah aku berganti pendapat bahwa alasanmu menjadi Golput ini hanya sekedar faktor ‘enggan’ atau lebih tepatnya ‘malas’?

    Karena di artikelmu ini kamu tidak menekankan secuilpun usahamu untuk mencari profil caleg. Yang ada kamu malah mengeluh tentang biaya dan waktu ketika harus mencari profil caleg.

    Untuk yg no.2 tidak ada komentar.

    wijna

    April 18, 2009 at 2:41 am

    • masih salah wis…kamu malah semakin menjauh dari konteks masalahnya…ayo2 silahkan dicoba lagi :D

      aku sudah berusaha walau mungkin kurang maksimal..bagaimana aku bisa mencapai kesimpulan seperti yang kutuliskan jika aku belum berusaha coba??

      sebenarnya yang ingin kusampaikan di no 2 adalah, kamu terlalu ingin mencoba menyederhanakan alasanku dengan membuang beberapa detail yang justru kuanggap penting sehingga aku bisa mencapai keputusanku untuk golput..yang mengakibatkan penangkapanmu justru menjadi tidak tepat.

      weh, perasa’an kok malah kamu se ribut mengenai alasanku ki to wis???emang penting banget ya alesanku ini bagimu???hehehehe

      winky

      April 18, 2009 at 1:10 pm

      • saya ndak peduli sama status GolPut-mu tapi yg saya pedulikan adalah alasan dibalik sikapmu itu.

        kalau begitu artikelmu ini mengandung maksud yang hanya kamu ketahui sendiri.

        wijna

        April 18, 2009 at 3:49 pm

        • enggak tau ya, komentar teman2 yg lain cukup mengena kok..komentarmu aja yang keluar jalur, mungkin ini dikarenakan itu karena kau terlalu ingin menyederhanakan permasalahan ini..tak kasih tau ya ini bukan keputusan yg gampang…
          kalo kamu memang ingin alasan yang paling sederhana, ya seperti yang kutuliskan di awal2: “karena kalian udah ikut pemilu”.

          tapi baguslah salah satu tujuanku membuat tulisan kan memang mengajak kita semua untuk sama2 berpikir…diskusi dan perdebatan yg membangun akan selalu kuterima dengan pikiran terbuka…

          kalo kamu masih penasaran..gimana kalo kita lanjutkan lewat YM saja??

          winky

          April 19, 2009 at 7:15 am

      • sejak kapan kau jadi pandai berkilah dan bersilat lidah win?
        sadarlah kawan…

        samsul arifin

        April 20, 2009 at 8:11 pm

  12. Demokrasi memberikan ruang yang luas untuk dua sisi, kejahatan atau kebaikan bisa dilegalkan Wink. Hukum legalitas itulah yang diakui disini dan akan mempengaruhi bagaimana nasib bangsa ini kelak. Kita tak menginginkan perjudian, homoseksual dan semua yang bertentangan dengan agama kita itu dilegalkan oleh undang-undang kan? Partisipasi kita dalam pemilu adalah untuk memilih anggota legislatif yang harapannya akan melegalkan kebaikan bukan melegalkan keburukan/kejahatan, maka setiap suara dalam pemilu kemarin sangat berarti karena setiap suara yang masuk akan menentukan siapa yang akan duduk menjadi anggota legislatif.
    Partisipasi kita dalam pemilu adalah bentuk harapan kita, dan bagiku golput adalah bentuk sebuah keputusasaan akan nasib bangsa ini, padahal kita tahu bahwa kita tak boleh berputus asa kan?

    hanif

    April 17, 2009 at 2:53 am

    • menurutku golput bukanlah suatu sikap putus asa bud..ini sebuah peringatan…suatu sikap yang mengatakan bahwa ada yang salah dengan pemilu legislatif sekarang

      winky

      April 17, 2009 at 4:03 am

      • menurutku golput memang bukanlah suatu sikap putus asa kali ini win, memang ada sebuah peringatan di dalamnya, yaitu suatu sikap yang mengatakan bahwa ada yang salah dengan sang pemilih, yaitu dirimu sendiri dalam hal ini.
        hanya kau sendiri yang bisa mencari apa yang salah win, hanya kau sendiri kawan.

        samsul arifin

        April 20, 2009 at 8:19 pm

  13. aku ga yakin kau benar2 mencintai negara ini win.
    kau begitu perhitungan kepada negeri kita ini.
    bukan tulisan ini yang aku harapkan sebenarnya.
    aku kecewa padamu, win!!

    aku harap kau tidak lari saat pemilihan presiden besok!!

    samsul arifin

    April 16, 2009 at 2:55 pm

    • apakah orang yang ikut pemilu karena ingin mendapatkan kekuasaan sesaat juga mencintai negara ini pin??

      aku lebih memandang pemilu itu adalah tempat kita menyampaikan hak suara kita…

      winky

      April 17, 2009 at 4:01 am

      • iya, memang “mereka” tidak mencintai negara ini sepertinya, tetapi kau tidak ingin menjadi bagian dari mereka kan? karena dengan tidak memilih sama sekali, kau telah menjadi bagian dari “mereka” win.

        dengan adanya pernyataan MUI : Golput itu haram, maka aku lebih memandang bahwa pemilu itu adalah tempat kita menyampaikan KEWAJIBAN suara kita…

        samsul arifin

        April 20, 2009 at 8:24 pm

  14. “..lalu ongkos pulang ke rumah “hanya” untuk ikut mencontreng, dan seberapa besarkah pengaruh satu hak pilihku dengan melihat caleg yang segitu banyaknya…”

    Baru Bandung ini, toh masih di pulau Jawa dan juga ada long weekend saat itu, menurutku sih kenapa tidak?! Seharusnya alasan tersebut tidak termasuk dalam salah satu alasan kenapa dirimu golput win.Ya inilah namanya pengorbanan win. Pengorbanan muncul akibat dari cinta, dalam hal ini cinta tanah air tentunya. Toh para pejuang zaman dulu tidak pernah mempertanyakan harga nyawa yang telah hilang dari raga, mereka dengan ikhlas memberikan segalanya buat bangsa ini tanpa berhitung apakah nyawanya sia-sia atau tidak dalam peperangan. Terlepas dari itu semua golongan putih (golput) adalah hak konstitusional, hak memilih untuk tidak memilih yang dilindungi UUD 1945 Pasal 28E Ayat 2, Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Golput merupakan deklarasi perlawanan dan perjuangan yang tercermin dari wajah ganda golput, yaitu konfrontatif dan korektif.

    Mathcocoon

    April 16, 2009 at 12:00 pm

    • wuiiih…abot tenan bahasamu Jok, berguru politik rupanya dikau di ladang bawang, apresiatif aku dengan komentarmu

      (bedebah ni Minky, artikelnya banyak dikomentarin!)

      wijna

      April 16, 2009 at 3:28 pm

    • pada kenyataannya aku ke Solo saat pemilu kok Jok, tapi tidak untuk mencontreng..

      aku hanya mendaftar cost apa saja yg harus aku keluarkan jika aku harus ikut pemilu..biaya pulang kampung juga masuk kan..

      ya para pejuang memang rela mempertaruhkan nyawanya, tapi mereka melakukan itu untuk sesuatu yang mereka yakini, untuk bangsa ini..sementara bisa kau baca kan jok di artikelku, aku sendiri tidak begitu yakin apakah dengan ikut pemilu, aku bisa bermanfaat untuk bangsa ini…

      kau sendiri bilang bahwa Golput bisa merupakan sikap korektif kan, makanya walau aku tidak menggunakan hak pilihku, tapi aku menggunakan hak suaraku..tetap menyampaikan aspirasiku..*walau aku g yakin bakal ada caleg yg baca tulisanku :D *

      winky

      April 17, 2009 at 3:44 am

      • Beh kok yang ada cuma pergumulan komentnya wijna dan winky tok…
        Nah lo, toh sudah di Solo juga… Owh, jadi karena kamu gak yakin suaramu bermanfaat atau tidak makanya gak nyontreng win?? Menurutku sih sebuah pemikiran yang dangkal win. Menurutku pemilu adalah sebuah hajatan win, ketika kita diundang untuk hadir, kita wajib untuk menghadiri meskipun kita punya hak untuk tidak hadir. Bagaimanapun juga ketika kita diundang berarti kita punya tempat tersendiri bagi empunya, sudah saatnya kita juga membalasnya dengan kehadiran kita.

        Mathcocoon

        April 19, 2009 at 2:05 pm

        • ceritanya begini jok..kemarin itu aku g niat pulang..la wong memang g niat ikut pemilu..tapi tiba2 dapat undangan reunian dari temen2 sma, ya udah pulang aja, itupun aku dapet tiketnya pas hari-H pemilu, jadi saat kalian mencontreng aku pas berada di kereta.. :D

          mungkin suaraku bisa bermanfaat jok..tapi apakah perjuanganku untuk memberikan suara akan setimpal dengan hasil yg akan kuperoleh…jika lalu kamu berpikir aku materialis, kapitalis, ato apapun itu..tunggu dulu jok…

          pada kenyataannya ini adalah keputusan yg berat, pemilu adalah suatu sarana perubahan yg harus dilakukan dalam proses demokrasi, salah satunya bisa sebagai sarana rakyat untuk mengintrospeksi pemerintahan yg sudah berjalan dan jika dalam suatu pemilu calon yang ada ternyata tidak sesuai harapan rakyat..maka sikap golput bisa dijadikan sebagai sarana untuk membuat siapapun yang terpilih maka pemerintahannya menjadi tidak legitime karena tidak mendapat dukungan rakyat, dan rakyat bisa mengajukan mosi tidak percaya…

          nah sekarang kita melihat pemilu legislatif sekarang, menurutku, calon yang ada mungkin (harus diakui) tidak terlalu bagus (aku melihat dari cara kampanye dan beberapa track record mereka), tapi mereka juga tidak buruk-buruk amat kok, kayaknya ada juga beberapa yg masih menjanjikan..

          proses pemilu, bagiku, bukan hanya sekedar saat kita mencontreng..tapi sebelumnya harus dilalui dengan pencarian calon yg tepat..dan menurut pendapat sederhana ku melihat cara caleg2 kita berkampanye, probabilitas menemukan caleg yg bagus menjadi kecil, dalam artian bisa jadi kita menemukan tapi butuh perjuangan yg tidak gampang ato kalau lagi sial, mungkin kita tidak menemukan..dengan kondisi ini aku bisa saja langsung berkata..ah, harga yg harus kubayar untuk ikut pemilu tidak sebanding dengan hasil yg akan kudapat (bagiku dan bagi bangsa ini)..dan ini mungkin juga alasan kenapa persentase golput di negara2 maju (dimana masyarakat bisa sangat pragmatis) tinggi..

          tapi aku juga memikirkan bahwa pemilu harus berjalan, ini proses demokrasi yg harus dilalui bangsa ini..dan melihat kalian sudah berkeyakinan untuk ikut pemilu dan yakin pemilu ini bakal bermanfaat untuk bangsa ini, maka aku bisa yakin untuk lebih baik tidak ikut pemilu dan melakukan hal yg lebih bermanfaat (bagiku dan bangsa ini)..toh aku juga tidak menganjurkan orang lain untuk golput kok..

          yang bisa aku tangkap adalah, kalian tidak setuju dengan tindakanku karena mungkin aku telah ‘mengkhianati’ bangsa ini dengan menjadi golput…tapi dalam sudut pandangku justru aku telah melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan untuk bangsa ini..maaf jika pemikiranku ini agak aneh…tapi satu yang pasti kita sama2 ingin yg terbaik untuk bangsa ini…

          winky

          April 20, 2009 at 4:29 am

          • ah banyak bicara kau win.
            kau lebih memilih datang pada acara reunian anak SMA picisan daripada berkorban sedikit untuk datang pada hajatan besar negerimu sendiri…

            samsul arifin

            April 20, 2009 at 9:00 pm

            • maaf pin, kali ini aku pikir komentarmu sudah terlalu tendensius dan arogan maka izinkan aku memberikan balasan yang arogan juga…

              oh ya!!picisan kau bilang!!! asal kamu tau, beberapa temanku juga golput tapi aku yakin mereka lebih mencintai bangsa ini daripada kamu…

              mereka paham apa yg mereka lakukan dan mereka juga telah memberikan kontribusi untuk bangsa ini sesuai bidang mereka…

              sekarang lihat dirimu!!yang sudah kamu lakukan adalah sekedar ikut pemilu dan menyalahkan orang lain yg golput sekaligus menganggap golput adalah penghianat bangsa..kamu pikir dengan begitu kamu telah menjadi pahlawan bagi bangsa ini!!!tanyakan pada dirimu pin, kontribusi konkret apakah yg telah kamu lakukan untuk bangsa ini??

              ah percuma ngomong sama kamu pin!! bahkan kamu tidak pernah mencoba mendengarkan alasanku…aku lebih menghargai cara wisna dan joko yang mengajak untuk berdialog..

              coba lihat semua komentarmu…kamu hanya bisa menyalahkan dan menyalahkan, dan bahkan kamu sendiri tidak ngasih alasan (atau mungkin kamu tidak bisa kasih alasan) kenapa aku harus tidak golput..apakah ini yg kau sebut ‘mencintai’ bangsa, apakah ini yg kau sebut dialog membangun untuk bangsa ini…

              dan ironisnya kamu menulis di fesbuk bahwa kita dilahirkan dengan kedua telinga untuk mendengar dari dua buah sisi..dan lihat dirimu, apakah kamu sudah mencoba mendengarkan??apakah kamu sudah mencoba melakukan dialog???dan kenapa aku tidak heran dengan inkonsistensimu ini..

              sebagai tambahan..coba lihat blogmu, tag yg kamu tulis adalah
              “Ditulis dengan ketidaksempurnaan. Tanggapi dengan kearifan”
              kamu menyuruh orang untuk arif..tapi apakah kamu sendiri sudah cukup arif dalam menanggapi orang lain..Dan tanyakan pada dirimu sendiri!! apakah dengan sekedar menyalahkan dan merendahkan orang lain apakah itu suatu tindakan yg arif..

              yang aku tangkap kamu hanya mencoba memaksakan egomu..bahkan aku tidak yakin kamu tahu apa yg kamu lakukan dan yg kau omongkan!!

              winky

              April 21, 2009 at 2:39 am

              • sudah!

                Pin, aku tahu kamu panas membaca semua komentar yang ada di artikel ini. Tapi kamu harus kendalikan emosimu, dan beri komentar balasan dengan sebijaksana mungkin. Beri alasan yang jelas untuk semua yang kau keluhkan ini.

                Kamu juga Win, kenapa sedikitpun kamu nggak melunakkan hatimu? Apa kamu nggak nyadar kalau komentar teman-temanmu ini semuanya berusaha untuk membuatmu melangkah ke arah yang lebih baik lagi?

                Jujur, aku memang tidak suka GolPut tetapi harus kutegaskan bahwa yang aku tidak suka adalah idelogi GolPut, bukan orang yang menganut GolPut. Karena itu aku berusaha semaksimal mungkin, dengan caraku yang terbatas dan serba kekurangan ini untuk mengenyahkan ideologi GolPut dari benak rakyat Indonesia.

                wijna

                April 21, 2009 at 12:56 pm

              • Hemm, aku telah membuatmu naik darah ternyata.
                Syukurlah, aku suka ini.
                Sebenarnya, aku menuliskan semua ini karena aku tahu kau sangat mencintai negeri ini, hanya saja aku merasa bahwa kau berada pada sisi yang salah saat ini.
                Terlebih lagi aku menuliskannya dengan emosi.

                Kalau aku memang dianggap bersalah, tolong maafkan aku.

                samsul arifin

                April 21, 2009 at 10:33 pm

                • don’t take it personal pin..aku hanya tidak suka dengan kata picisan yg kamu pakai..kamu boleh menyalahkan tindakanku dengan memberikan alasan yg logis kenapa aku salah..tapi kamu tidak punya hak untuk menghina dan merendahkan, bahkan kamu tidak memberikan alasan yg logis dan rasional dari kata2mu..

                  aku membuka pikiran dan bersedia mendengarkan kok semua alasan2 yg mau kalian utarakan…aku terbuka untuk semua kritik dan saran…

                  mari bersama2 melakukan dialog dan debat..beri aku alasan yg logis dan rasional…bukan sekedar mengutarakan emosi sesaat..

                  winky

                  April 22, 2009 at 10:37 am

  15. btw,kok pake kata2 utilitas dan ekspektasi toh?blm liat hubungannya..mari kita sama2 berdoa dan berusaha demi indonesia yg lbh baik..

    eka

    April 16, 2009 at 8:05 am

    • hubungannya baik2 saja ka’..hehehe.. :D

      yupz mari kita sama2 berdoa dan berusaha semampu kita..

      winky

      April 17, 2009 at 3:34 am

  16. Saya simpulkan deh, jadi kamu GolPut karena kamu tidak melihat satupun caleg yang menurutmu berkompeten diantara sekian banyak caleg.

    Jadi masalahmu sebenarnya kan hanya kuantitas calegnya, misalnya calegnya cuma ada 3 per provinsi bisa jadi kamu ndak GolPut.

    Gitu ya?

    wijna

    April 16, 2009 at 6:15 am

    • kalo cuman 3 tapi g kompeten semua gimana wis??

      winky

      April 17, 2009 at 3:33 am

      • pertanyaanmu itu direduksi jadi “misalnya kalau calonnya hanya 1 dan nggak kompeten gimana” ? aneh.

        wong namanya milih, calonnya pasti minimal dua lah.

        Kalaupun ada calon yang “maha-dewa”, bagus segala-galanya, kenapa mesti ada milih?

        Justru menurutku, memilih itu adalah proses penyeleksian dua calon yang masing-masing serba kekurangan untuk diberikan amanah dan tanggung-jawab.

        tul ga?

        wijna

        April 17, 2009 at 8:24 am

        • haha..jane pertanyaanku kui nyindir pertanyaan awalmu lo wis…coba lihat

          “Saya simpulkan deh, jadi kamu GolPut karena kamu tidak melihat satupun caleg yang menurutmu berkompeten diantara sekian banyak caleg….”

          di situ kamu bicara kualitas (kompetensi)..tapi selanjutnya..

          “…Jadi masalahmu sebenarnya kan hanya kuantitas calegnya,..”

          di sini kamu bicara kuantitas..

          lah bingung to aku se jawab..makane daripada aku salah njawab mending tak tanya balik wae.. :P

          winky

          April 17, 2009 at 5:43 pm

          • apa yang saya tangkap dari ceritamu ini adalah kamu nggak menemukan satupun caleg yang berkompeten dari kuantitas caleg yang tersedia.

            wijna

            April 17, 2009 at 6:32 pm

            • ya udah jika memang penangkapanmu begitu..sekarang mari kita lihat kalimatmu yg lain:

              “..misalnya calegnya cuma ada 3 per provinsi bisa jadi kamu ndak GolPut.”

              nah dari sini kan wajar dunk kalo aku menanyakan pertanyaanku itu…sekedar untuk memastikan (karena pada awalnya aku juga menyangka seperti pendapatmu diatas)…

              TAPI!!! ternyata kamu menganggap pertanyaanku itu aneh dan malah mereduksi pertanyaanku sekaligus memberikan pendapatmu seperti di atas…

              dari sini yang bisa (sementara) saya tangkap adalah:
              1. Apa yg kamu tangkap dari ocehanku ini adalah seperti yg sudah kamu tuliskan di atas dan kamu tidak (terlalu) setuju dengan itu.. :D
              2. Kamu berpendapat, kalau disuruh milih ya tinggal milih aja.

              komentarku:
              1. Untuk masalah kamu g setuju..that’s OK, I’m totally fine with that.. :D
              tapi untuk penangkapanmu kurang tepat deh kayak’e..la wong aku aja belum nyari (dengan serius) kok sudah bisa dibilang tidak menemukan..bahkan aku percaya lo masih banyak caleg yang pantas dipilih kok.
              2. Pendapatku no 2 ini layak diperdebatkan karena aku mencoba menyederhanakan (dengan amat sederhana) apa yang kamu tulis di blogmu dan komentar2mu di atas..mungkin ini juga yg kamu lakukan saat membaca ocehanku ini..jadi aku sekarang sedang mencoba meniru caramu (saat menilai ocehanku) untuk kugunakan menilai tulisan dan komenmu… :D

              eh btw, aku terharu lo wis ocehanku ini bisa menginspirasimu membuat postingan di blogmu…*berpelukan*..hehehehehe

              winky

              April 17, 2009 at 7:27 pm

              • sekuat apa pun argumenmu mengenai kegolputanmu, aku yakin kau akan mendapatkan balasan yang setimpal.
                dan juga orang2 di luar sana yang kau ikuti jejak kegolputannya…

                samsul arifin

                April 20, 2009 at 9:08 pm

                • saya jg golput mas. nyontreng, tapi membatalkan suara. saya pikir, memilih untuk tidak memilih jg sebuah pilihan kan, dan itu jg adalah sebuah hak. dinegara demokrasi dibelahan dunia manapun, pasti tetap ada golputnya. jadi, saya pikir, mari kita mulai menghargai pilihan masing2 orang. untuk memilih, atau memilih untuk tidak memilih. it’s all depend on us, rite

                  weirdaft

                  July 22, 2009 at 6:40 am

  17. pertamax win..
    ya klo mnurutku itu pilihan.blh nyontreng,blh gk nyontreng.wong hak asasi kok.

    but,paling gk klo kita nyontreng,kita berusaha milih yg paling baik(mnurut kita),bwt mengimbangi kekuatan evil di luar sana,daripada sekedar abstain.

    -just my HO-

    linggis

    April 16, 2009 at 5:59 am

    • kan udah ada kalian yang mengimbangi kekuatan evil itu mas..makanya aku g perlu ikut nyontreng.. :D

      eh di blog ku ini sekarang commentnya yang paling baru justru di atas mas..jadi kalo pertamax malah paling bawah..hehe

      winky

      April 17, 2009 at 3:32 am


Leave a Reply