Perubahan Iklim dan Masa Depan Energi
Ancaman pemanasan global kini sudah sangat nyata dan beberapa efeknya seperti temperatur udara yang semakin tinggi, naiknya permukaan laut, glaciers yang mencair, dll, sudah mulai kita rasakan bersama. Diperlukan kesadaran global dan kemauan bersama yang kuat dari semua lapisan masyarakat dunia untuk turut serta berperan aktif menghadapi ancaman serius yang sudah didepan mata dan bahkan sudah kita rasakan efek negatifnya ini.
Begitulah sebagian dari isi seminar yang disampaikan oleh Prof . Cristhian Azar dari Chalmers University of Technology Swedia, dengan tema “Climate Change and the Future of Energy” yang diselenggarakan di Universitas Padjajaran pada tanggal 19 Februari 2009 yang lalu.
Pada seminar ini Prof. Azar menjelaskan mengenai beberapa efek dari perubahan iklim yang terjadi di bumi serta tantangannya bagi umat manusia dan beberapa cara untuk mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim itu terutama dari sisi penggunaan sumber-sumber energi baru. Berikut saya sertakan file presentasi dari Prof. Azar, silahkan download di sini.
Pada presentasinya yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam itu, secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian pokok. Yang pertama adalah latar belakang perubahan iklim ditinjau dari segi sains. Ditunjukkan beberapa data yang menunjukkan kadar karbon dioksida di udara, trend perubahan iklim global dari masa ke masa, dan beberapa akibat yang telah kita rasakan. Dari semua itu menunjukkan memang telah terjadi perubahan iklim di bumi dan semuanya itu menunjukkan trend yang mengkhawatirkan jika tidak segera ditangani dengan baik.
Walaupun ada sebagian kecil orang yang masih berfikir skeptis bahwa perubahan iklim ini hanyalah suatu siklus yang wajar dari bumi, dan juga mengatakan bahwa isu global warming hanyalah dibuat oleh sekelompok golongan tertentu untuk mencari keuntungan. Mengenai hal ini Prof. Azar mengatakan bahwa bukti-bukti sekarang ini sudah lebih dari cukup untuk menyangkal pendapat itu, seperti badai yang terjadi di berbagai belahan dunia, suhu panas yang ekstrim yang melanda beberapa negara, kekeringan yang melanda beberapa daerah di bumi sementara di saat yang sama di bagian dunia yang lain justru dilanda kebanjiran, dll. Dan juga data-data yang dikumpulkan oleh para ilmuan menunjukkan kadar kandungan di udara dan siklus perubahan iklim pada saat ini merupakan yang terparah yang pernah terjadi di bumi.
Bagian kedua dari presentasinya mengungkapkan beberapa tantangan yang kita hadapi dalam rangka mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim ini. Dari data berikut terlihat bahwa kebanyakan gas rumah kaca yang dihasilkan di bumi berasal dari energy emission seperti pembakaran batu bara dan minyak bumi untuk pembangkit listrik, polusi dari kendaraan dan pabrik, dll.

Hal ini menjadikan isu energi menjadi isu yang sangat penting, seperti penggunaan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan bila dibandingkan sumber energi fosil. Tapi untuk Indonesia yang memiliki kawasan hutan tropis yang cukup luas isu-isu emisi gas rumah kaca yang berasal dari sumber non-energi juga menjadi sangat penting. Seperti perusakan hutan, pembukaan lahan untuk pertanian dan pemukiman, dll.
Pada bagian ketiga dari presentasinya memberikan solusi dari tantangan-tantangan di atas, solusi yang ditawarkan lebih menitikberatkan pada penanganan emisi gas rumah kaca yang berasal dari energi. Ada 3 hal yang ditawarkan:
1. Menggunakan lebih sedikit energi.
Idenya cukup sederhana, yaitu dengan mengefisienkan penggunaan energi maka akan mengurangi penggunaan sumber-sumber energi fosil, yang otomatis akan mengurangi emisi karbon. Pada pelaksanaanya bisa berupa penggunaan lampu hemat energi, penggunaan alat-alat transportasi yang lebih ramah lingkungan seperti sepeda, dan beberapa penghematan sederhana yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi pada kenyataannya tidaklah sesederhana itu, karena ini menyangkut gaya hidup orang yang sudah dibiasakan selama bertahun-tahun, misalnya orang yang sudah terbiasa menggunakan motor akan lebih memilih naik motor ketimbang sepeda dengan alasan efisiensi waktu, tenaga, dan bahkan mungkin gengsi. Di sini diperlukan kemauan sungguh-sungguh dari masyarakat untuk mengubah gaya hidupnya agar lebih bersahabat dengan lingkungan.
2. Menggunakan sumber-sumber energi alternatif.
Berbagai macam sumber energi alternatif yang sudah berhasil dikembangkan di berbagai negara seperti angin, air, solar cell, dan penggunaan biomass. Tapi penggunaan energi-energi alternatif seperti ini juga masih memiliki beberapa kendala, seperti belum semua negara memiliki teknologi untuk mengelola sumber-sumber energi baru itu, biaya produksi yang bisa jadi lebih mahal, dan penggunaan biomass sendiri juga memiliki beberapa dilema seperti perusakan lahan untuk penanamannya dan meningkatnya harga makanan disebabkan permintaan yang naik untuk penggunaan energi.
3. Menangkap dan menyimpan karbon.
Dengan cara membangun suatu fasilitas penangkapan karbon (carbon dioxide pumping station) untuk mengambil karbon dioksida dari udara dan kemudian menyimpannya di bawah tanah dan di laut, sehingga diharapkan bisa mengurangi kadar karbon dioksida di udara. Gambarannya seperti berikut:

Pada akhirnya semua skema di atas tidak akan dapat terlaksana dengan optimal jika tidak ada kekuatan hukum dari pemerintah yang “memaksa” semua pihak untuk bersama-sama mengurangi emisi karbon dioksida. Misalnya bagaimana mungkin industri mau menggunakan sumber energi alternatif jika bahan bakar fosil jauh lebih murah dan menguntungkan. Disinilah peran pemerintah, seperti memberikan pajak yang lebih untuk bahan bakar fosil dan memberikan standar yang ketat dalam regulasi emisi gas buang untuk kendaraan dan industri.
Secara global sebenarnya sudah ada kesepakatan internasional untuk bersama-sama mengurangi emisi gas rumah kaca di dunia yang tertuang dalam protokol Kyoto. Dimana didalamnya mencakup kerja sama bersama antar negara dan clean development mechanism serta emission trading. Namun sayangnya sampai saat ini Amerika Serikat negara yang menyumbang emisi karbon dioksida terbesar di dunia belum mau meratifikasi perjanjian itu. Hal ini memang menjadi isu politik dan ekonomi bagi negara maju seperti Amerika, sebab mereka beralasan sebelum mereka mengurangi emisi karbon dioksida di negaranya maka negara-negara berkembang seperti Cina harus terlebih dulu melakukan langkah konkrit. Jika tidak, maka saat Amerika mengeluarkan peraturan yang ketat di negaranya, maka otomatis perusahaan besar yang kemungkinan terkena imbas seperti harus membayar pajak yang lebih tinggi akan mengalihkan industrinya ke negara yang lebih menguntungkan seperti Cina, dan pada akhirnya walaupun emisi karbon dioksida di Amerika berhasil diturunkan tapi pada saat bersamaan emisi karbon dioksida di negara lain akan meningkat sehingga secara total tidak akan terjadi perubahan yang berarti di dunia.
Untunglah walaupun Amerika “keras kepala” tidak mau meratifikasi protokol Kyoto, beberapa negara bagian di Amerika melakukan inisiatif untuk membuat aturan daerah yang ketat dalam rangka turut mengurangi emisi karbon dioksida, dan jumlahnya makin hari makin bertambah banyak. Sementara di tingkat global sendiri sedang disiapkan pengganti protokol Kyoto yang diharapkan lebih efektif dalam menanggulangi masalah global warming ini. Langkah ini sudah dimulai dalam pertemuan di Bali kemaren dan dituangkan dalam Bali action plan 2007 dan diharapkan pada pertemuan di Kopenhagen pada Desember 2009 besok akan sudah dihasilkan mekanisme yang lebih efektif dan bisa diterima oleh semua negara baik negara maju maupun negara berkembang, harapannya nantinya seluruh dunia bersedia bersama-sama mengatasi permasalahan global warming ini. Karena pada akhirnya ini bukanlah permasalahan satu bangsa atau satu negara, tapi ini adalah permasalahan kita semua sebagai satu umat manusia, dan diperlukan langkah kompak dalam menyelamatkan bumi kita ini.
Begitulah sedikit tentang seminar yang saya ikuti kemarin, setidaknya meningkatkan kesadaran kita tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di bumi ini. Untuk referensi mengenai apa itu global warming saya menyarankan untuk menonton film An Inconvenient Truth, di sana dijelaskan masalah global warming dengan berbagai visualisasi dan penjelasan yang cukup menarik. Beberapa ceramah Al Gore yang lain mengenai global warming juga layak untuk di simak seperti di sini dan di sini, disana dijelaskan pula beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.



Untuk mengurangi pemanasan global, mari kita kurangi CO2, baik dari kendaraan bermotor, listrik, ataupun industri. Saya membaca satu poster di salah satu industri elektronik besar di Bekasi, bahwa “setiap penghematan listrik 1 KWh = pengurangan CO2 sebesar 0,712 Kg”, berarti setiap orang bisa ikut aktif dalam mengurangi pemanasan global, paling tidak dengan menghemat pemakaian listrik setiap bulannya.
Dari manakah penghematan signifikan yang bisa kita dapat? Menurut penelitian yang dilakukan oleh salah satu BUMN di gedung2 komersial, pemakaian mesin pendinginlah (AC, chiller) yang paling besar memakai daya listrik, sekitar 60-70% dari seluruh tagihan listriknya.
Dan tahukah teman2 Mesin pendingin menggunakan Freon (CFC, HFC, HCFC) sbg bahan pendinginnya, didalam freon mengandung Chlor & Fluor. Chlor adalah gas yang merusak lapisan ozon sedangkan Fluor adalah gas yang menimbulkan efek rumah kaca. Global warming potential (GWP) gas Fluor dari freon adalah 510, artinya freon dapat mengakibatkan pemanasan global 510 kali lebih berbahaya dibanding CO2, sedangkan Atsmosfir Life Time (ALT) dari freon adalah 15, artinya freon akan bertahan di atsmosfir selama 15 tahun sebelum akhirnya terurai.
Musicool
September 7, 2009 at 5:18 am
makanya win..ngegenjot sepeda..supaya ga produksi CO2..jadi ya nikita-nya jadi nikiti aja..(alias didorong kalo mau kmana2..
) kyk superbike punyaku disini..
didit83
March 4, 2009 at 8:27 pm
@eka santoso:
Itu file aslinya dari Mr. Azar, kalo mau yg versi ppt kukirim ke emailmu aja ya ka’
ya..ya..ya..snapshotnya mang kadang2 ganggu..usul ditampung
…kalo mo usul mengenai tampilan blog lewat email ato YM aja ka’..oke..
winky
March 1, 2009 at 6:16 am
snapshotnya wordpress mengganggu!
eka santoso
March 1, 2009 at 5:01 am
win, kok pake pptx?
sediain yang ppt napa?
thx..
heh, ngobrolin pacar sendiri pake guling2…:-p..
eka santoso
March 1, 2009 at 4:57 am
Kalo baca tulisan kayak gini, aku jadi inget Rio. Aku udah susah banget dipisahkan dari dia, je.
fairuzdarin
February 28, 2009 at 1:14 pm
(guling2 ngakak2 baca komentar diatas ini)
mawi wijna
February 28, 2009 at 9:40 am
pin..entah 4 tak ato 2 tak..anak kecil pun tau kalo motormu tu polutan…coba aja diuji emisi gas buang..entar kan hasilnya motormu langsung ditempeli stiker SUMBER POLUSI…
winky
February 28, 2009 at 8:32 am
hahahaha…
belum tahu dia!
Ngatini itu 4 tak.
orang ga pakai oli samping gitu kok…
samsul arifin
February 28, 2009 at 7:14 am
jangan dengarkan yang komentar diatas komentarku ini Win. Ngatini itu dua TaK, boros bensin. Kamu nggak kayak yang diatas ini kan? Bisanya cuma menghimbau tapi nggak bergerak sama sekali? hehehe
mawi wijna
February 27, 2009 at 2:19 pm
mending pakai NGATINI. dia hemat energi loh.
Samsul Arifin
February 27, 2009 at 1:15 pm
ya enggak lah..nikita tetap bersamaku..seperti yg dibilang pakde Azar itu, yang perlu diubah adalah gaya hidup kita..beberapa langkah sederhana yg bisa kita lakukan adalah:
menggunakan lampu hemat energi, mengubah kebiasaan boros dalam memakai alat2 elektronik, menggunakan kendaraan secara lebih bijaksana, dan juga membangun kesadaran publik dengan menuliskan hal2 seperti ini..berusaha semampu dan sebisa kita…
winky
February 27, 2009 at 12:17 pm
Wiiis..mantep tenan. bgs2.bangga saya punya teman sptmu..kira2 apa yg sudah win lakukan? btw,dunia memang kompleks ya.cth amrik vs cina td.tak hny isu lingkungan,namun isu bis-ekon yg diperhitungkan. mkn hari,kendala meningkat..
eka santoso
February 27, 2009 at 12:08 pm
Wuiiiih (gayanya Mamat), Winky tumben2an ikutan Seminar kayak gini? Udah mulai peka lingkungan po? hehehe.
Setelah ikut seminar ini, apa langkah penyelamatan bumi yang bakal kamu lakukan? Nonton film An Inconvenient Truth lagi atau malah memberangus Nikita untuk selamanya? he?
mawi wijna
February 27, 2009 at 10:53 am